
Tanaman daun pandan (Pandanus amaryllifolius) tumbuh subur di kawasan tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Daun ini dikenal karena aromanya yang khas, berasal dari senyawa alami bernama 2-acetyl-1-pyrroline, senyawa yang juga terdapat pada beras wangi seperti basmati dan jasmine.
Sejak ratusan tahun lalu, pandan telah digunakan dalam berbagai tradisi kuliner Nusantara — dari kue, nasi, hingga minuman. Selain sebagai pewangi makanan, pandan juga memiliki makna spiritual dan budaya yang mendalam.
Dalam berbagai adat daerah, daun pandan digunakan untuk:
Dengan demikian, pandan bukan hanya bahan dapur, melainkan warisan budaya dan simbol kehidupan tropis yang erat dengan keseharian masyarakat Indonesia.
Kota Makassar pernah secara resmi dikenal dengan nama Ujung Pandang, terutama pada masa pemerintahan Orde Baru sekitar tahun 1970-an.
Nama ini diambil dari Benteng Ujung Pandang, sebuah benteng peninggalan kerajaan Gowa-Tallo yang dibangun sekitar abad ke-16 di kawasan pesisir barat daya Sulawesi Selatan.
Secara geografis, wilayah tersebut berada di ujung semenanjung yang menjorok ke laut.
Kata “ujung” menggambarkan letak ujung pantai, sedangkan “pandang” diyakini berasal dari kata “pandang” atau “pandangang” dalam bahasa setempat, yang berarti melihat atau memandang ke laut.
Dengan demikian, Ujung Pandang dapat diartikan sebagai “titik pandang di ujung semenanjung”.
Selain penjelasan geografis dan historis, terdapat cerita rakyat dan narasi lokal yang mengaitkan penamaan ini dengan tumbuhan pandan.
Konon, pada masa awal perkampungan di pesisir Makassar, banyak tumbuhan pandan tumbuh liar di sepanjang pantai.
Daun pandan dikenal memiliki daya tahan tinggi terhadap angin laut dan berfungsi menahan abrasi. Karena banyaknya tanaman ini di tepi pantai, masyarakat setempat menyebut kawasan tersebut sebagai “Ujung Pandan”, yang kemudian berubah penyebutannya menjadi “Ujung Pandang” seiring perkembangan bahasa dan ejaan.
Meski penjelasan ini tidak tercatat secara formal dalam arsip sejarah, kisah tersebut tetap hidup dalam cerita tutur masyarakat Makassar dan memperlihatkan hubungan erat antara alam dan identitas lokal.
Jika kita melihat dari sisi budaya, nama “Ujung Pandang” memuat dua lapisan makna:
Daun pandan, dengan seluruh filosofi kesejukannya, menjadi lambang keseimbangan antara alam, manusia, dan budaya.
Karena itu, kisah hubungan pandan dengan nama Ujung Pandang mencerminkan bagaimana masyarakat tradisional menamai tempat bukan hanya berdasarkan bentuk fisik, tetapi juga makna dan hubungan emosional terhadap lingkungan.
Daun pandan memiliki sejarah panjang sebagai rempah tropis, bahan kuliner, dan simbol spiritual di Indonesia.
Sementara itu, nama Ujung Pandang berakar dari benteng dan posisi geografis kota Makassar, namun kisah rakyat juga menautkannya dengan keberadaan pohon pandan di pesisir pantai.
Hubungan ini — meski tidak sepenuhnya dibuktikan secara akademis — memperkaya warisan naratif kota Makassar.
Ia menunjukkan bagaimana alam, sejarah, dan budaya lokal berpadu membentuk identitas yang tetap hidup hingga hari ini.
✨ “Dari harum daun pandan lahir nama, dari ujung pandang terpancar sejarah — dua kisah yang sama-sama berakar pada tanah dan laut Sulawesi Selatan.”
Silakan berbagi pendapat Anda tentang artikel ini. Login dengan Facebook untuk berkomentar.