
Kerajaan Gowa-Tallo berasal dari dua kerajaan yang berdampingan di wilayah pesisir selatan Sulawesi, yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Pada awalnya, Gowa terdiri atas sembilan komunitas kecil yang dikenal sebagai Bate Salapang (Sembilan Bendera), di antaranya Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, dan Agangjene.
Pada tahun 1565, kedua kerajaan sepakat bersatu dalam ikatan “Dua Raja Tetapi Satu Rakyat”, menjadikan Gowa-Tallo sebagai kekuatan politik dan ekonomi baru di kawasan timur Nusantara.
Masuknya Islam ke Gowa-Tallo dimulai pada awal abad ke-17 melalui tokoh Karaeng Matoaya, Raja Tallo yang memeluk Islam sekitar tahun 1605. Sejak saat itu, kerajaan ini menjadi salah satu pusat penyebaran Islam terbesar di kawasan timur Indonesia.
Masa kejayaan Gowa-Tallo mencapai puncaknya di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin (1653–1669) yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur. Di bawah kepemimpinannya, Gowa-Tallo menguasai jalur perdagangan laut dan menjadi pusat perdagangan rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang dari Asia dan Eropa.
Sistem pemerintahan Gowa-Tallo membagi peran antara Raja Gowa sebagai pemimpin tertinggi dan Raja Tallo sebagai perdana menteri atau pengatur negeri.
Perekonomian kerajaan berkembang pesat berkat pelabuhan-pelabuhan strategis yang menjadi jalur ekspor hasil bumi, rempah, dan kain tenun.
Kemajuan Gowa-Tallo menarik perhatian VOC (Belanda) yang akhirnya menimbulkan konflik besar, dikenal sebagai Perang Makassar (1666–1669). Kekalahan kerajaan membuat pengaruhnya menurun, namun jejak sejarahnya tetap kuat hingga kini.
Beberapa peninggalan penting yang masih dapat disaksikan:
Kekayaan budaya Gowa-Tallo juga melahirkan kuliner khas Makassar yang sarat rempah dan cita rasa kuat. Banyak dari hidangan ini merupakan warisan istana yang kemudian menjadi makanan rakyat hingga kini.
Coto Makassar adalah hidangan berkuah daging dan jeroan sapi yang dimasak menggunakan campuran 40 macam rempah (patang pulo).
Dahulu, coto hanya disajikan bagi para bangsawan kerajaan sebagai simbol kemakmuran dan keramahan Gowa.
Ciri khas:
Es Pisang Ijo adalah kuliner tradisional dari wilayah Gowa dan Makassar yang terbuat dari pisang raja dibalut adonan hijau lembut, disajikan bersama bubur sumsum, sirup merah, dan es serut.
Kini, Pisang Ijo Evi menjadi salah satu pelaku kuliner yang melestarikan kelezatan tradisional ini dengan inovasi modern, termasuk Pisang Ijo versi frozen yang praktis dan tetap autentik.
Toppa Lada merupakan masakan daging sapi berbumbu lada hitam khas Gowa.
Rasa pedasnya menggambarkan karakter kuat masyarakat Bugis-Makassar yang tangguh dan pemberani — sejalan dengan semangat “Ayam Jantan dari Timur”.
Bassang adalah bubur khas Makassar berbahan dasar jagung dan beras.
Makanan ini dahulu dihidangkan untuk tamu kehormatan kerajaan dan menjadi simbol kesederhanaan sekaligus kehangatan budaya Gowa.
Pallu Kaloa adalah hidangan kepala ikan dengan kuah pekat berwarna kecokelatan.
Kekayaan rempah dan cita rasa lautnya mencerminkan karakter maritim Kerajaan Gowa-Tallo yang kuat di bidang perdagangan dan pelayaran.
Kerajaan Gowa-Tallo tidak hanya meninggalkan warisan sejarah dan arsitektur, tetapi juga identitas kuliner khas Makassar.
Rempah-rempah yang dahulu menjadi komoditas dagang utama kini menjadi elemen penting dalam setiap hidangan tradisional.
Melalui inovasi seperti Pisang Ijo Evi, generasi masa kini dapat menikmati cita rasa klasik Makassar tanpa kehilangan nilai tradisionalnya.
Dari kejayaan Kerajaan Gowa-Tallo hingga ragam kuliner khas Makassar, sejarah dan cita rasa berpadu dalam satu garis warisan budaya yang panjang.
Setiap suapan Coto Makassar, setiap tegukan Es Pisang Ijo, dan setiap rempah dalam Pallu Kaloa adalah bentuk penghormatan terhadap semangat leluhur Sulawesi Selatan — kuat, hangat, dan penuh rasa.
Silakan berbagi pendapat Anda tentang artikel ini. Login dengan Facebook untuk berkomentar.